Integritas dalam Perspektif Filologis dan Teologis

Share This

Dalam Perjanjian Lama, istilah yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai “integrity” berasal dari kata Ibrani תֹּם (tōm) atau bentuk lain seperti תָּמִים (tāmîm). Secara leksikal, kata ini memuat spektrum makna “keadaan tanpa cacat, kelengkapan, kesempurnaan, ketulusan, kewarasan, kejujuran, dan keutuhan.” Pemakaian istilah ini dapat dilacak, misalnya, dalam teks-teks seperti Kejadian 17:1, di mana Allah memerintahkan Abraham untuk hidup tāmîm di hadapan-Nya, yakni dalam kondisi utuh tanpa kompromi moral.

Dalam Perjanjian Baru, padanan makna integritas diekspresikan dengan istilah Yunani yang berkaitan dengan ἀλήθεια (alētheia) “kebenaran,” serta konsep καλὰ ἔργα (kala erga) “perbuatan baik yang patut.” Dengan demikian, integritas dalam konteks ini menunjuk pada “kejujuran dan kesetiaan dalam mengikuti pola perbuatan baik.”

Yesus Kristus merupakan teladan sempurna manusia berintegritas. Setelah dibaptis, Ia masuk ke padang gurun untuk berpuasa empat puluh hari empat puluh malam. Pada titik kelemahan jasmani itu, Iblis mencobai-Nya dengan tujuan meruntuhkan integritas-Nya. Namun, kendati Ia sepenuhnya manusia (ὁμοιοπαθής, homoio-pathēs, “serupa dalam penderitaan dengan kita”) sekaligus sepenuhnya Allah, Ia tidak pernah berdosa (Ibrani 4:15). Inilah definisi integritas sejati: utuh, tanpa cacat, benar, dan menampilkan pola perbuatan baik yang konsisten.

Orang Kristen dipanggil untuk meneladani Kristus. Dalam Kristus, manusia lama ditanggalkan, dan manusia baru diciptakan (καινὴ κτίσις, kainē ktisis), sehingga dapat dipandang tāmîm di hadapan Allah (2 Korintus 5:17, 21; Efesus 1:4–8). Roh Kudus berdiam dalam diri orang percaya untuk menguduskan (ἁγιάζειν, hagiazō) dan menjadikan mereka serupa dengan Kristus (Roma 8:29; 2 Korintus 3:18). Karena itu, umat Kristen dipanggil untuk “mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar,” sembari menyadari bahwa “Allah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Filipi 2:12–13). Integritas, dengan demikian, bukanlah hasil usaha manusia belaka, melainkan anugerah dan karya Allah yang bekerja di dalam umat-Nya.

Dalam pemahaman kontemporer, istilah integrity kerap dipahami sebagai “ketidakdapatdirusakkan secara moral.” Bagi orang Kristen, hal ini berarti tidak dapat disuap, tidak dapat dikompromikan, sebab mereka hidup bagi Allah, bukan bagi manusia (Kolose 3:17, 23; Kisah Para Rasul 5:29). Integritas juga mencakup kesetiaan pada perkataan (Matius 5:37; Yakobus 5:12), kasih yang diwujudkan dalam perkataan dan perbuatan (1 Yohanes 3:17–18; Yakobus 2:17–18; Efesus 4:29), serta ketaatan menyeluruh untuk mengikuti Allah (Yohanes 15:1–17). Kehidupan orang percaya harus konsisten dengan imannya, menampakkan kepercayaan bahwa jalan Allah adalah yang terbaik (Amsal 3:5–6).

Hidup dengan integritas di tengah dunia yang cenderung memuliakan korupsi serta berhadapan dengan sifat dosa sendiri adalah tantangan besar. Namun, 1 Petrus 3:13–18 memberikan penghiburan bahwa penderitaan karena kebenaran adalah berkat, dan Kristus sendiri menjadi teladan integritas melalui penderitaan-Nya. Hidup berintegritas berarti meneladani Kristus, dan hanya melalui kuasa-Nya orang percaya dapat hidup dalam integritas sejati (Yohanes 16:33; Filipi 1:6; Efesus 1:13–14).

More Posts

Related Posts

Mazmur 105:3 menegaskan, “Bermegahlah di dalam nama-Nya yang kudus, biarlah hati orang yang mencari Tuhan bersukacita.” Ayat ini bukan sekadar ajakan, melainkan panggilan untuk hidup

Apakah kedamaian yang sesungguhnya harus kita miliki dalam kehidupan kita? Semua manusia mengimpikan kedamaian. Bahkan ada yang memilih tinggal di desa-desa guna mendapatkan sebuah kebahagiaan

Kaum wanita BWA GMAHK Jemaat Melati turut terlibat dalam acara rohani “End It Now” yang dilaksanakan pada hari sabat tanggal 23 Agustus 2025 bertempat di