
1 Tawarikh 16:31:
“Biarlah langit bersukacita dan bumi bersorak-sorak, biarlah orang berkata di antara bangsa-bangsa: ‘TUHAN itu Raja!’”
Bayangkan sebuah desa kecil yang selama bertahun-tahun hidup dalam kekacauan. Tidak ada pemimpin yang adil, hukum tidak ditegakkan, dan rasa aman menghilang. Semua orang berjalan dengan hati yang penuh takut. Lalu suatu hari, seorang raja yang bijaksana, penuh kasih, dan berkuasa datang mengambil alih pemerintahan. Dia menegakkan keadilan, memulihkan perdamaian, dan melindungi setiap rakyatnya. Betapa besar sukacita yang dirasakan penduduk desa itu!
Inilah gambaran kecil dari apa yang terjadi di dunia kita. Dunia ini pernah dikuasai oleh Iblis, sang perusak, yang menebar dosa, penderitaan, dan kematian. Namun, melalui karya penebusan Kristus, kerajaan kasih kembali ditegakkan. Yesus, Raja segala raja, telah merebut kembali apa yang menjadi milik-Nya dan memerintah dengan penuh kuasa dan kasih.
Di surga, malaikat-malaikat dan semua makhluk ciptaan bersukacita. Nyanyian kemenangan berkumandang: “Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!” (Wahyu 5:13). Kemenangan ini bukan hanya untuk surga, tetapi juga untuk kita di bumi. Kristus telah menjembatani jurang yang memisahkan kita dari Allah, dan kini kita memiliki akses langsung kepada Bapa.
Yesus sendiri berkata: “Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu” (Yohanes 20:17). Kata-kata ini menegaskan bahwa kita adalah bagian dari keluarga Allah. Hubungan antara surga dan bumi telah dipulihkan. Sukacita surga kini menjadi milik kita juga.
Namun, sering kali kita masih melihat dunia penuh dengan kejahatan, bencana, dan penderitaan. Lalu di mana buktinya bahwa Tuhan itu Raja? Bukti itu ada pada hati yang berubah. Setiap kali seseorang memilih mengampuni daripada membalas dendam, setiap kali ada yang menolong tanpa pamrih, setiap kali kita memilih berjalan dalam kebenaran meski sulit—di situlah kerajaan Allah hadir.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk memancarkan sukacita itu. Seperti lampu yang menyala di tengah kegelapan, hidup kita harus menjadi bukti bahwa Kristus benar-benar berkuasa. Kita hidup bukan untuk ketakutan, melainkan dalam pengharapan. Kita menantikan hari ketika Kristus akan memerintah sepenuhnya, dan segala air mata akan dihapuskan.
Sampai hari itu tiba, mari kita berseru seperti pemazmur: “Tuhan itu Raja!” Bukan hanya di bibir, tetapi juga melalui tindakan kita setiap hari. Karena Dia berkerajaan, kita memiliki damai di tengah badai, pengharapan di tengah kesedihan, dan sukacita di tengah dunia yang penuh penderitaan.