Ayat “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa” (Ulangan 6:4) dikenal sebagai Shema, sebuah pengakuan iman yang sangat berharga bagi umat Israel. Kata shema dalam bahasa Ibrani berarti “dengarkan” atau “perhatikan”, namun maknanya lebih dalam daripada sekadar mendengar. Ini adalah ajakan untuk meresapi, menaati, dan menghidupi kebenaran yang Tuhan sampaikan.
Makna “TUHAN itu esa”

Makna “Tuhan itu esa”
Ungkapan ini telah menjadi pusat pembahasan para ahli dan pengajar Alkitab selama berabad-abad. Sebagian menafsirkan bahwa ayat ini adalah pernyataan monoteisme murni — penegasan bahwa hanya ada satu Tuhan yang benar. Ada pula yang memahaminya sebagai pengakuan eksklusif: “TUHAN adalah Allah kita, bukan allah yang lain.”
Dalam bahasa aslinya, frasa ini tidak memiliki kata kerja yang eksplisit, sehingga terjemahannya dapat dipahami sebagai: “TUHAN adalah Allah kita; TUHAN adalah satu.” Makna “esa” di sini bukan hanya menyangkut jumlah, tetapi juga menunjuk pada kesatuan sifat, karakter, dan kemahakuasaan Tuhan.
Kesatuan yang Mengikat Hati
Shema langsung diikuti dengan perintah yang menjadi inti kasih kepada Tuhan: “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu” (Ulangan 6:5). Kesatuan Tuhan menuntut kesatuan hati dari umat-Nya. Tidak ada ruang bagi hati yang terbagi atau kesetiaan ganda.
Nabi Zakharia menubuatkan bahwa suatu hari kelak, seluruh bumi akan mengakui kesatuan Tuhan ini: “Pada waktu itu, TUHAN akan menjadi Raja atas seluruh bumi; pada waktu itu, TUHAN adalah satu-satunya dan nama-Nya satu-satunya” (Zakharia 14:9).
Kesatuan Tuhan dalam Perjanjian Baru
Yesus sendiri mengutip Shema sebagai hukum yang terutama (Markus 12:29-30). Rasul Paulus menegaskan dalam 1 Korintus 8:6 bahwa bagi kita hanya ada satu Allah, Bapa, sumber dari segala sesuatu, dan satu Tuhan, Yesus Kristus, melalui-Nya kita hidup.
Kesatuan ini bukan hanya konsep teologis, tetapi fondasi kehidupan rohani. Ia memanggil kita untuk memusatkan iman, kasih, dan pengharapan hanya kepada Dia.
Penutup
Shema bukan sekadar pernyataan iman kuno. Ia adalah undangan bagi setiap orang percaya untuk mengakui, menyembah, dan mengasihi Tuhan yang esa — Tuhan yang sama dari dahulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya.