Dia yang Takut Akan Tuhan

Share This

“Berbahagialah orang yang senantiasa takut akan TUHAN, tetapi orang yang mengeraskan hatinya akan jatuh ke dalam malapetaka.”
(Amsal 28:14)

Tanpa takut kepada Tuhan, tidak ada seorang pun yang dapat merasakan kebahagiaan sejati. Seperti yang dinyatakan dalam Testimonies for the Church jilid 4, halaman 435, rasa takut akan Tuhan adalah dasar dari sukacita yang benar.

Takut akan Tuhan bukan berarti hidup dalam rasa cemas atau tertekan. Takut akan Tuhan berarti menghormati Dia, mengakui kebesaran-Nya, dan menempatkan Dia di atas segalanya. Inilah dasar kebahagiaan sejati yang tidak bergantung pada keadaan.

Alkitab menegaskan, “Allah disegani dalam kalangan orang-orang kudus, dan sangat ditakuti melebihi semua yang ada di sekeliling-Nya” (Mazmur 89:8). Mereka yang memahami kebesaran dan keagungan Allah akan menyebut nama-Nya dengan penuh rasa gentar dan hormat yang kudus. Allah berdiam dalam terang yang tak terhampiri; tidak ada seorang pun yang dapat melihat Dia dan tetap hidup (Tulisan-Tulisan Permulaan, hlm. 195).

Karena itu, kita diajak untuk mengucap syukur dan beribadah kepada Allah dengan cara yang berkenan di hadapan-Nya, penuh hormat dan takut, sebagaimana tertulis dalam Ibrani 12:28, “Jadi… marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.”

Penghormatan sejati kepada Allah lahir dari kesadaran akan kebesaran-Nya yang tak terbatas dan kehadiran-Nya yang penuh kemuliaan. Setiap hati yang peka terhadap Yang Tak Kelihatan itu akan merasakan kesan yang mendalam. Pemazmur berkata, “Nama-Nya kudus dan dahsyat.” Bahkan malaikat-malaikat menutupi wajah mereka ketika menyebut nama-Nya.

Maka, jika malaikat saja demikian hormat kepada nama Allah, betapa lebih lagi kita, manusia yang jatuh dan berdosa, harus mengucapkannya dengan bibir yang penuh rasa takut dan hormat (Pelayang Injil, hlm. 157–158).

Rasa takut akan Tuhan menumbuhkan hati yang rendah, mulut yang bijak dalam berbicara, dan langkah yang hati-hati dalam hidup. Kita akan memilih kata-kata yang membangun, keputusan yang menyenangkan hati-Nya, dan sikap yang mencerminkan kasih-Nya.

Hari ini, mari kita belajar untuk menghormati Tuhan dalam setiap hal yang kita lakukan — saat kita bekerja, berbicara, atau mengambil keputusan. Sebab ketika kita menaruh Tuhan di tempat yang tertinggi, damai dan sukacita akan mengalir dalam hidup kita.

More Posts

Related Posts

Mari temukan jawaban dari pertanyaan yang mungkin membingungkan kita dari setiap ayat-ayat Alkitab. Kita yakin bahwa Alkitab tidak bertentangan satu dengan yang lain dan mari

GMAHK Melati Cabang Sekolah Sabat Bangkinang turut merayakan ulang tahun Provinsi Riau yang ke 68. Sebagai bagian dari Provinsi Riau, umat Tuhan di CSS. Binjei

Bagi sebagian orang, masa pensiun kerap dianggap sebagai fase hidup yang kurang menyenangkan. Menjelang masa ini, tidak sedikit yang mulai merasa gelisah karena belum